Home / Desa Wisata  / Kampung Merabu Berau dengan Potensi Daerah yang Berlimpah

Kampung Merabu Berau dengan Potensi Daerah yang Berlimpah

Kampung Merabu Berau

Pembahasan kita kali ini ialah Kampung Merabu Berau menghidupi warganya dengan potensi daerah. Kehidupan khas orang pedesaan dengan kesejahteraannya, memanfaatkan alam dan juga menjaganya, merupakan bagian yang sangat erat dengan penduduk Desa Merabu, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Komitmen tersebut dijaga hingga muncul wisata dari mengelola Hutan Desa seluas 8.245 hektare yang diresmikan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan pada 9 Januari 2014 silam.

Kampung Merabu Berau

Kampung Merabu Berau

Kampung Merabu yang berada di wilayah Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menyimpan berbagai situs purbakala dan mitos masyarakat Dayak Basaf. Untuk sampai di daerah ini, tidaklah mudah. Jalan darat hanya mampu mencapai desa sebelah. Selebihnya perjalanan ditempuh dengan menyeberangi sungai. Suasana hutan dan juga sungai­sungai kecil akan menemani di sepanjang perjalanan menuju kampung ini.

Kampung yang konon berdiri sejak tahun 1911 ini, menyimpan potensi kekayaan alam yang beragam. Selain hutan, Merabu memiliki kekayaan alam yang masih perawan di antaranya, perbukitan karst seluas 7.500 hektar yang memesona, di dalamnya terdapat ratusan jenis flora dan fauna.

Sebelum mengelola hutan, masyarakat sejahtera dengan .menjual sarang burung walet yang ada di gua sarang burung walet. Namun, kesejahtera:in itu mulai berubah drastis sejak pembukaan lahan besar­besaran untuk penanaman kelapa sawit pada tahun 2000­an. Kehilangan tempat mencari makan, walet tak lagi bersarang.

Sehingga, sejak tahun 2014 pasca menjadi hutan desa, masyarakat lebih memilih perekonomian dengan hal yang lebih efisien, salah satunya adalah menukal, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai menanam padi.

Kerukunan dengan bergotong­royong menjadi bagian yang menyatu di masyarakat Kampung Merabu. Saat melakukan penanaman padi, yang biasa dilakukan setahun dua kali, masyarakat beramai­ramai meratakan lahan atau ladang yang akan ditanami padi. Saat membersihkan ladang, mereka melakukannya dengan cara dibakar.

Namun, hanya secukupnya dan api diusahakan tidak merembet ke hutan dengan cara mengoleskan abu di sekitarnya, setelah api padam. Selain bertani dan berladang, masyarakat terutama ibu-ibu membuat bedengan sayur seluas 1,5 hektar untuk memenuhi kebutuhan pangan setiap hari.

Tradisi Turun Temurun

Masyarakat kampung Merabu di pedalaman Kecamatan Kelay, memiliki tradisi “Tuaq Long Kale Lenggaseng Pia” yang diturunkan dari paru leluhur. Tuaq sendiri berasal dari kata tu yang merupakan singkatan dari tulung (tolong) dan –aq singkatan dari aqu (aku). Untuk maknanya berupa segala sesuatu yang dapat memuaskan perasaan seseorang karena kehalusan dan keindahan.

Tuaq pertama kali diperkenalkan seorang belian (sebutan untuk seorang pemimpin saat itu) yang bernama Danyam. Tujuan diadakan tradisi tuaq adalah untuk mendapat madu dan buah-buahan yang jadi kebanggaan yang mencukupi kebutuhan mereka.

Kampung Merabu telah dikenal lama dikenal akan madu hutannya. Menelisik akan sejarahnya, nenek moyang Dayak Lebo mengajarkan pengolahan yang tidak bersentuhan langsung dengan tangan dalam proses panennya. Pemanenan madu dilakukan dengan mengiris sarang lebah menggunakan pisau panjang dan madu ditiriskan bukan diperas dengan tujuan agar awet hingga tahunan.

Kampung yang kini memiliki slogan ASIK (Aman, Sehat, Indah, dan Kreatif) ini dikenal sebagai wilayah ekowisata yang merupakan percontohan Kampung Iklim. Masyarakat setempat mengibaratkan hutan sebagai gudang yang menyimpan segala kebutuhan masyarakat, seperti menyediakan kayu untuk bangunan rumah, rotan, buah-buahan, tumbuhan, bahan obat herbal, serta bahan-bahan untuk keperluan upacara adat.

Kampung Merabu memiliki gua yang menyimpan kisah prasejarah di dalamnya. Goa Beloyot yang dikenal dengan hamparan tapak-tapak tangan, diyakini telah berusia lebih dari 4.000 tahun. Letak tapak tangan itu menunjukkan derajat masyarakat Dayak dan juga kepemilikan satu kawasan oleh kelompok masyarakat Dayak pada masa itu.

Tapak tangan tersebut diprediksi milik wanita Dayak yang cantik bernama Dayang Bunga Inuq yang pada masa itu dikenal sangat sakti. Oleh warga setempat, tapak tangan tersebut sangat dihormati dan dijaga agar tidak diganggu dan dijamah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Jarak Tempuh

Untuk dapat sampai di kampung ini, para penikmat kebudayaan dengan alam yang bersejarah ini, membutuhkan waktu tempuh sekitar 12 jam dari Kota Samarinda, sedang apabila dari Kabupaten Berau sekitar empat jam. Tapak tangan prasejarah yang ada di kampung ini, menjadi paduan memesona dengan asrinya alam khas suasana hutan. Tempat ini menjadi salah satu bagian kunjungan destinasi sekaligus sebagai kawasan pelestarian cagar alam dan menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat.

Sebelum berkunjung ke Kampung Merabu Berau usahakan Anda dalam keadaan sehat. Untuk menjaga kesehatan konsumsilah selalu produk-produk Synergy WorldWide yang bisa diorder di aplikasi SBiz atau kontak kami langsung.

Sekian info berkaitan dengan kampung merabu berau menghidupi warganya dengan potensi daerah, semoga post kali ini berguna buat Anda. Tolong post ini dibagikan agar semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi:

Review overview