Home / Wisata Lain  / Wisata Pulau  / Liburan ke Pulau Penyengat yang Mengagumkan 2020

Liburan ke Pulau Penyengat yang Mengagumkan 2020

Liburan ke Pulau Penyengat

Sekarang kami akan ulas seputar liburan ke pulau penyengat yang mengagumkan. Pulau Penyengat adalah pulau kecil seluas dua kilometer persegi atau kurang lebih 240 hektare dan merupakan satu dari sekian banyak pulau yang tersebar di wilayah Kepulauan Riau. Pulau ini berjarak sekitar enam kilometer dari Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Pulau Penyengat merupakan mahar pernikahan dari Sultan Mahmud kepada Engku Putri Raja Hamidah, putri dari raja Haji Fisabilillah.

Liburan ke Pulau Penyengat

Liburan Ke Pulau Penyengat yang Mengagumkan

Pulau Penyengat muncul dalam sejarah Melayu yaitu pada awal abad ke-18 M. Di mana saat itu meletus perang saudara di Kerajaan Johor – Riau yang kemudian melahirkan Kerajaan Siak di daratan Sumatra. Pulau ini menjadi penting lagi ketika berkobarnya perang Riau pada akhir abad ke-18 yang dipimpin oleh Raja Haji Fisabilillah, yang pada tahun 1997 diangkat sebagai pahlawan nasional. Raja Haji menjadikan pulau ini sebagai kubu penting yang dijaga oleh orang-orang asal Siantan dari kawasan Pulau Tujuh di Laut Cina Selatan.

Cerita rakyat yang lain menyebutkan nama Pulau Penyengat diambil dari nama binatang sejenis lebah yang dikenal dengan nama penyengat. Awalnya, pulau ini dikenal orang sebagai tempat mengambil air dalam pelayaran yang melintasi kawasan ini. Konon, pada suatu hari para saudagar yang mengambil air di pulau ini diserang oleh binatang sejenis lebah tersebut. Pihak Belanda menjuluki pulau ini dengan dua nama yakni Pulau Indera dan Pulau Mars. Kini pulau ini lebih dikenal dengan nama Penyengat Inderasakti.

Untuk liburan ke Pulau Penyengat, wisatawan bisa menyebrang menggunakan pompon dari pelabuhan yang lokasinya tidak jauh dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjung Pinang. Pompong adalah sejenis perahu motor kecil berbadan kayu yang menggunakan mesin temple. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10 menit perjalanan. Pompong ini baru akan berangkat kalau penumpangnya sudah mencapai 12 orang.

Tapi tidak usah khawatir akan menunggu lama, karena pompong ini juga merupakan sarana transportasi sehari-hari bagi penduduk Tanjung Pinang dan Pulau Penyengat, jadi setiap saat pasti ada warga yang menyebrang. Dari dalam pompong wisatawan bisa menyaksikan bangunan masjid yang berwarna kuning. Itulah Masjid Raya Sultan Riau atau lebih dikenal dengan nama Masjid Penyengat. Dilihat dari laut, bangunan Masjid Raya Sultan Riau tampak megah, keempat menaranya terlihat anggun menjulang menyambut hangat para wisatawan yang datang.

Masjid Raya Sultan Riau

Satu bangunan yang tidak boleh dilewatkan kalau liburan ke Pulau Penyengat adalah masjidnya yaitu Masjid Raya Raya Sultan Riau. Masjid dengan warna kuning yang khas ini menjadi salah satu bangunan istimewa di Pulau Penyengat. Keistimewaan itu terletak pada bahan yang digunakan untuk membangun masjid tersebut.

Masjid Raya Sultan Riau dibangun dengan menggunakan campuran putih telur untuk memperkuat dinding kubah, menara dan bagian lainnya. Konon, dibutuhkan telur berkapal-kapal untuk mendirikan masjid Raya ini. Sedangkan kuning telurnya digunakan untuk mewarnai dinding dan kubah masjid.

Masjid Raya Sultan Riau didirikan pada 1 Syawal 1249 Hijriah atau pada tahun 1832 Masehi. Masjid ini didirikan oleh Raja Abdul Rahman Yang Dipertuan Muda VII. Masjid ini mempunyai 17 buah kubah. Hal ini sesuai dengan jumlah rakaat shalat wajib dalam sehari semalam.

Masjid ini berukuran 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya berukuran 29,3 x 19,5 meter, disangga oleh empat buah tiang. Di halaman masjid terdapat dua buah rumah sotoh, yang biasa digunakan sebagai tempat singgah bagi para musafir dan berfungsi juga sebagai tempat musyawarah.

Sayangnya para wisatawan yang liburan ke Pulau Penyengat tidak diizinkan untuk memotret bagian dalam masjid ini, padahal banyak yang menarik di dalam masjid ini. Salah satunya adalah sebuah mushaf Al-qur’an yang ditulis tangan oleh Abdurrahman Istambul, seorang putra Riau yang dikirim belajar ke Turki pada tahun 1867 M. Mushaf Al-qur’an ini diletakkan dalam sebuah kotak kaca.

Selain mushaf Al-qur’an, juga terdapat kitab-kitab kuno yang merupakan koleksi dari perpustakaan yang didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf al Ahmad Yang Dipertuan Muda Riau X. Dan koleksi itu bisa dilihat di masjid ini saat wisatawan liburan ke Pulau Penyengat.

Ruangan dalam masjid tidak terlalu luas. Dinding bagian dalam masjid berwarna putih, terlihat kontras dengan karpet yang berwarna hijau. Mimbarnya terbuat dari kayu jati dengan ukiran khas jepara. Di salah satu bagian masjid juga terpasang lampu Kristal yang merupakan hadiah dari Kerajaan Prusia di Jerman.

Istana Kerajaan Riau

Peninggalan lainnya yang masih bisa disaksikan saat liburan ke Pulau Penyengat adalah Bangunan Istana Kantor. Bangunan ini letaknya tidak jauh dari Masjid Raya Sultan Riau. Istana ini merupakan Kantor Pemerintahan Kerajaan Riau yang pertama. Sayang kini sebagian fisik dari bangunan Istana Kantor ini telah hancur. Balai Adat Melayu Indera Perkasa, merupakan satu-satunya bangunan yang tidak berwarna kuning sebagaimana bangunan lainnya yang ada di pulau ini.

Balai Adat Melayu ini merupakan replika dari rumah adat Melayu yang berbentuk panggung dengan corak Melayu yang khas. Di dalam Balai Adat Melayu ini terdapat pelaminan khas Melayu yang full colour. Di depan Balai Adat Melayu ada sebuah pelantar beton yang menjorok ke laut. Kalau cuaca sedang cerah, pemandangan akan terlihat cantik dari pelantar beton ini.

Bukit Kursi

Selain itu bila liburan ke Pulau Penyengat Anda bisa mengunjungi Bukit Kursi yang tingginya sekitar 150 m dari permukaan laut. Inilah titik tertinggi di Pulau ini. Pemandangan dari puncak bukit ini benar-benar indah. Bukit Kursi ini, pada masa penjajahan dulu merupakan benteng bagi para pejuang Indonesia untuk mempertahankan diri dari serangan penjajah Belanda.

Di puncak bukit ini, wisatawan masih bisa menyaksikan peninggalan-peninggalan perang zaman dulu, seperti meriam dan parit yang digunakan sebagai jalur untuk menyuplai bubuk mesiu bagi meriam-meriam yang ada di puncak bukit.

Di bawah bukit ada sebuah bangunan yang disebut Gedung Mesiu yang bisa wisatawan lihat saat liburan ke Pulau Penyengat. Di tempat inilah bubuk mesiu untuk keperluan perang disimpan. Bukit ini benar-benar merupakan benteng pertahanan yang sempurna, karena puncaknya terlindungi oleh pohon-pohon rindang.

Terdapat beberapa pondok kayu yang bisa digunakan sebagai tempat beristirahat di puncak Bukit Kursi. Pohon-pohon rindang yang ada membuat suasana di puncak Bukit Kayu terasa begitu nyaman.

Transportasi Berkeliling Pulau Penyengat

Untuk berkeliling saat liburan ke Pulau Penyengat, wisatawan bisa berjalan kaki ataupun menggunakan transportasi wisata yang ada. Misalnya menggunakan becak motor atau biasa disebut bemor. Dengan biaya yang relatif murah, wisatawan bisa diajak berkeliling melihat-lihat peninggalan sejarah yang ada di Pulau Penyengat dengan menggunakan bemor. Satu bemor muat untuk dua orang penumpang.

Keuntungan lain kalau memilih naik bemor adalah wisatawan bisa memperoleh informasi menarik mengenai tempat-tempat bersejarah yang ada di pulau ini dari supir bemor. Karena supir bemor di pulau ini juga merangkap sebagai tour guide dan fotografer dadakan. Tempat-tempat peninggalan sejarah yang bisa wisatawan kunjungi di pulau ini adalah kompleks makam raja-raja dan tokoh-tokoh penting pada zaman Kerajaan Riau Lingga.

Saat liburan ke Pulau Penyengat wisatawan bisa berziarah ke makam tokoh-tokoh penting. Di antaranya adalah makam pahlawan nasional Raja Ali Haji yang dikenal sebagai Bapak Bahasa Melayu Indonesia. Karya beliau yang terkenal adalah Gurindam Dua Belas. Makam Raja Ali Haji berada di kompleks yang sama dengan makam Engku Putri Raja Hamidah.

Selain makam Raja Ali Haji dan makam Engku Putri Raja Hamidah, masih terdapat beberapa kompleks makam lainnya di pulau ini. Di antaranya adalah makam Raja Haji Fisabilillah Yang Dipertuan Muda Riau IV, makam Raja Jakfar Yang Dipertuan Muda RiauVI, dan makam Raja AbdulrahmanYang Dipertuan Muda Riau VII.

Wisata Kuliner

Tidak lengkap rasanya jika liburan ke Pulau Penyengat ini tanpa mencicipi kuliner khasnya. Makanan khas Pulau Penyengat yaitu kue deram-deram. Kue ini bentuknya seperti donat, hanya saja ukurannya lebih kecil. Kue ini terbuat dari tepung beras dan gula merah serta rasanya manis.

Demikian informasi tentang liburan ke pulau penyengat yang mengagumkan, kami harap artikel ini mencerahkan Anda. Tolong artikel ini disebarluaskan agar semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Referensi:

Review overview