Home / Wisata Religi  / Masjid  / Masjid Agung Palembang Jejak Kejayaan Kesultanan Palembang

Masjid Agung Palembang Jejak Kejayaan Kesultanan Palembang

Masjid Agung Palembang

Masjid Agung Palembang merupakan hasil karya monumental Sultan Mahmud Badaruddin 1 yang dibangun pada tahun 1738 – 1748. Bertandang ke masjid yang sudah berusia lebih dari 2,5 abad ini, tak cuma mengingatkan para pengunjung pada Allah SWT. Namun juga pada keragaman akan budaya Palembang serta pengobat rindu kejayaan Kesultanan Palembang di masa lampau.

Masjid Agung Palembang

Masjid Agung Palembang

Gerbang utama Masjid Agung Palembang berhadapan dengan bundaran air mancur. Gerbang ini merupakan sebuah gerbang besar yang berhiaskan bebatuan dengan motif ukiran khas Palembang dan sebagian lagi bertuliskan kaligrafi. Jika pengunjung masuk melalui gerbang belakang terdapat taman dan air mancur berukuran lebih kecil.

Rumput hijau terbentang sepanjang halaman Masjid Agung ini. Ada sudut tertentu di Masjid Agung ini yang ditanami dengan berbagai macam bunga-bungaan. Pepohonan rindang sejenis palem pun terlihat menghiasi taman yang sekaligus menjadi halaman belakang masjid. Saat penuh, halaman ini pun beralih fungsi menjadi lahan parkir.

Tetapi tidak dengan cara menginjak rumput di taman tersebut. Sebab memang ada bagian yang disediakan khusus untuk menampung puluhan kendaraan di bagian ini. Untuk kendaraan roda dua, ada tempat lain yang terpisah. Tempat parkir ini cukup akomodatif untuk menampung kendaraan jamaah meskipun tidak jarang di saat-saat tertentu pengunjung harus memarkirkan kendaraannya di sisi lain.

Kian mendekati bangunan utama Masjid Agung Palembang, terlihat sebuah kolam air mancur berukuran sedang. Di sekelilingnya dipasang pipa-pipa yang bisa dipakai oleh jamaah untuk mengambil wudhu. Sebetulnya ada bangunan khusus lainnya yang bisa dipakai untuk mensucikan diri sebelum shalat. Tetapi bila diperhatikan, para pengunjung lebih senang mengambil air di pipa tersebut.

Meskipun terlihat sangat besar, tetapi sesungguhnya Masjid Agung yang kini bernama Masjid Sultan Mahmud Badaruddin II ini terdiri dari 2 bangunan yang terpisah. Masjid Agung ini dibangun pada tahun 1738. Bentuk bangunannya hampir menyerupai bujur sangkar dengan ukuran 30 x 36 meter. Masjid Agung ini dulu pernah menjadi masjid terbesar di Nusantara yang dapat menampung hingga 1.200 jamaah.

Namun, setelah dilakukan beberapa kali renovasi dan ditambah bangunan yang lebih besar di sisi depan, Masjid Agung Palembang mampu menampung hingga 9.000 jamaah. Renovasi masjid terakhir kali dilakukan tahun 2000 dan selesai tahun 2003 demi menyambut pelaksanaan PON XVI pada tahun 2004.

Arsitektur Masjid Agung Kesultanan Palembang

Arsitektur Masjid Agung mengadaptasi gaya Eropa, China dan Nusantara. Hal ini tidak mengherankan karena pada mulanya Masjid Agung ini dirancang oleh arsitek dari Eropa. Gaya bangunan Tiongkok dapat dilihat dari sisi atap masjid yang masing-masing memiliki jurai atau ornamen berbentuk lengkung kecil pada atap seperti yang biasanya terdapat pada kelenteng.

Untuk atap Masjid Agung Palembang dipengaruhi oleh bentuk-bentuk candi Hindu-Jawa yaitu berbentuk limas yang terdiri dari 3 undakan. Sedangkan untuk sentuhan gaya Eropa bisa terlihat pada pilar masjid yang lebar dan kokoh. Gaya Eropa juga terlihat pada pemilihan rupa jendela yang tinggi dan besar. Bahkan material bangunan seperti marmer dan kaca diimpor langsung dari Eropa.

Seperti pada umumnya sebuah masjid besar, biasanya hampir selalu mempunyai menara, begitu juga dengan Masjid Agung. Bahkan ada dua menara yaitu menara lama dan menara baru. Menara lama berukuran 20 meter dibangun pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (pemerintahan 1758 – 1774) yang letaknya ada di sisi barat masjid.

Sedangkan untuk menara baru ukurannya lebih tinggi yaitu 45 meter dan dibangun tahun 1970. Menara ini memiliki 130 anak tangga yang disusun melingkar dan masih digunakan sampai sekarang. Tetapi sayangnya menara ini tertutup untuk umum. Padahal bila memandang Kota Palembang dari ketinggian pasti akan jadi pengalaman istimewa tak terlupakan.

Hal unik lainnya dari Masjid Agung ini ialah dari desain interiornya. Ukiran khas Palembang menghiasi hampir seluruh benda yang ada di dalam masjid. Ukiran ini di antaranya ukiran berbentuk bunga melati atau teratai dan ornamen hiasan daun sulur. Mulai dari pintu masuk, jendela, puncak mihrab, mimbar sampai tiang-tiang masjid tak luput dari berbagai hiasan elok khas Palembang ini.

Pusat Sejarah Kesultanan Palembang

Tak cuma jadi pusat kegiatan umat Islam, Masjid Agung Palembang juga jadi salah satu bagian penting dari sejarah Indonesia. Sejak pertama kali didirikan, Masjid Agung telah menjadi saksi penting dari banyaknya peristitwa bersejarah yang terjadi di Palembang. Misalnya saja pada tanggal 1-5 Januari 1947 pasca-Perang Dunia II, Masjid Agung adalah saksi dari terjadinya peristiwa yang dikenal dengan nama perang “Lima Hari Lima Malam”.

Kini, setelah masa-masa kelam penjajahan Indonesia berakhir, Masjid Agung ini menjelma jadi salah satu pilar pariwisata di Kota Palembang. Banyak wisatawan yang mendatangi masjid ini, baik yang ingin merasakan pengalaman beribadah ataupun hanya sekadar menikmati keindahannya.

Masjid Agung Palembang terus digunakan untuk berbagai kegiatan.

Terlebih lagi di bulan Ramadhan, aktivitas keagamaan terus digalakkan selama sebulan penuh. Aktivitas keagamaan ini seperti :

  • kajian keislaman,
  • tadarusan,
  • khatam Qur’an,
  • kuliah dhuha,
  • penyaluran zakat fitrah,
  • lomba-lomba Islam bagi anak-anak dan remaja,
  • menyiapkan hidangan buka dan sahur bersama bagi warga.

Bahkan, dulu terdapat pasar bedug / pasar Ramadhan di halaman Masjid Agung. Namun sekarang sudah dipindahkan ke halaman Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Palembang.

Bangunan Monpera yang ada di seberang Masjid Agung Palembang adalah bangunan bersejarah yang kini beralih fungsi jadi museum. Uniknya, para wisatawan bisa menaiki atapnya dan bisa melihat Palembang dengan point of view yang berbeda. Selain, Monpera, tak jauh dari Masjid Agung juga ada Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Museum ini berhadapan langsung dengan Sungai Musi.

Kharisma Masjid Agung kian berpijar. Karena sebagai salah satu peninggalan bersejarah yang perlu dilestarikan dan dijaga. Masjid kebanggaan warga Palembang ini tak hanya berfungsi sebagai rumah peribadatan umat Islam saja. Namun juga sebagai bentuk konservasi bangunan kuno peninggalan kejayaan masa lalu yang patut dicontoh.

Sebelum wisata religi ke Masjid Agung Kesultanan Palembang usahakan Anda dalam keadaan sehat. Untuk menjaga kesehatan Anda, selalu konsumsi produk-produk Synergy WorldWide yang bisa diorder di aplikasi SBiz atau kontak kami langsung.

Jaga Kesehatan

Sekian info terkait dengan Masjid Agung Palembang jejak kejayaan Kesultanan Palembang, kami harap artikel ini membantu teman-teman semua. Kami berharap artikel mengenai Masjid Agung Kesultanan Palembang ini dibagikan biar semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Referensi:

Review overview