Home / Wisata Seni Budaya  / Tradisi  / Tradisi Lubuk Larangan Merangin Menjaga Keberlangsungan Ekosistem

Tradisi Lubuk Larangan Merangin Menjaga Keberlangsungan Ekosistem

Tradisi Lubuk Larangan Merangin

Pada kesempatan ini kami akan jelaskan tentang tradisi lubuk larangan merangin menjaga keberlangsungan ekosistem. Istilah lubuk pasti tidak asing bagi siswa yang pernah belajar peribahasa khas Melayu, “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Peribahasa ini setidaknya menggambarkan betapa dalam masyarakat Melayu memaknai bahasa alam. Lubuk merujuk pada istilah sungai, kubangan, cekungan, atau habitat ikan-ikan yang umumnya ada di alam pedesaan.

Tradisi Lubuk Larangan Merangin

Tradisi Lubuk Larangan Merangin

Di Tanah Melayu, tak terkecuali Merangin, Jambi, terdapat ratusan Lubuk yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten ini. Ratusan Lubuk itu didiami oleh ikan-ikan yang tidak boleh sembarangan ditangkap dari segi waktu maupun jumlah tangkapannya. Oleh karena itu, warga menamainya dengan lubuk larangan. Sebuah tradisi khas Merangin yang terus diwariskan demi menjaga kebersihan, keasrian dan keberlanjutan ekosistem sungai.

Jambi dikenal sebagai wilayah yang turut dialiri sungai-sungai besar. Sungai-sungai yang mengalir di wilayah Jambi juga membawa kekayaan sumber daya alam bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya. Tak heran, bila beberapa kota di Jambi dan sekitarnya mengadopsi istilah sungai, air maupun muara dalam namanya. Salah satu kekayaan sumber daya yang turut dibawa adalah ikan. Jumlah ikan meningkat drastis saat musim-musim tertentu di berbagai wilayah di provinsi Jambi, termasuk Merangin.

Sayang, melimpahnya jumlah ikan di sungai yang mengalir di Merangin sering tidak dibarengi dengan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem sungai. A1hasil, ikan-ikan itu pun terus ditangkap, tanpa memberikan kesempatan yang lebih besar bagi mereka untuk berkembang biak.

Pemerintah, beberapa tokoh masyarakat dan elemen masyarakat yang terketuk nuraninya untuk menjaga keberlangsungan ekosistem sungai pun tak tinggal diam. Tradisi Lubuk Larangan pun tercipta, menjadi salah satu cikal bakal tadisi penjagaan keanekaragaman potensi hayati yang melimpah di bumi Merangin ini.

Peraturan pada Lubuk Larangan

Tradisi Lubuk Larangaa tidak hanya merujuk pada satu lokasi tempat dibudidayakannya ikan-ikan. Melainkan merujuk pula pada kebijakan yang mengatur tata kelakuan masyarakat dalam menangkap ikan. Semua peraturan terkait lubuk larangan telah dituangkan dalam Peraturan Desa atau Perdes. Artinya, masyarakat pun memang diminta berkontribusi aktif dalam menjaga keberlangsungan ekosistem sungai dan dapat saling mengingatkan, karena telah tertulis dalam peraturan.

Jika dilanggar, sanksi tegas akan dilayangkan. Sanksi adat itu antara lain bempa denda dua puluh gantang beras, satu ekor kambing, sekaligus selemak semanisnya dan uang, tunai Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Sanksi ini kiranya dapat membuat jera pelaku perusakan sungai dan penangkap ikan yang serakah.

Keberadaan Tradisi Lubuk Larangan berdampak positif bagi kebersihan sungai. Hal ini berangkat dari permasalahan pencemaran sungai yang terjadi beberapa tahun belakangan, di antaranya berasal dari limbah Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Dengan adanya lubuk larangan, masyarakat akan lebih memperhatikan kebersihan sungai, karena lubuk yang akan ditinggali oleh ikan-ikan tersebut harus dialiri air yang jernih dan bebas polusi. Setiap ada lubuk larangan baru yang dibuat oleh masyarakat, Bupati Merangin pun dengan senang hati akan menebar bibit ikan di lokasi tersebut.

Tradisi Lubuk Larangan yang berada di Merangin bahkan telah terdaftar di Kementrian. Hal ini menimbulkan rasa bangga yang besar di sanubari masyarakat, terutama bagi yang ingin terus menjaga keberlanjutan ekosistem sungai. Setiap desa bahkan ditargetkan memiliki lubuk larangan. Selain menerapkan regulasi formal kepada para warga, pengelolaan lubuk larangan juga berlaku secara adat. Hal ini sebagai bentuk pengajaran atau edukasi kepada generasi muda tentang penjagaan habitat ikan sungai dengan baik.

Menariknya Lubuk Larangan

Salah satu yang paling menarik dari Tradisi Lubuk Larangan adalah saat pemanenan ikan pada tiga sampai lima tahun. Setelah bibit ikan disebar atau disebut dengan pernbukaan lubuk larangan. Semua warga berkumpul di lubuk larangan desanya saat panen tiba. Mereka telah bersiap dengan jaring-jaring berukuran besar dan alat penangkap ikan ramah lingkungan. Tak lupa, perayaan tradisi. biasanya juga turut diramaikan dengan hiburan atau kesenian khas rakyat. Sehingga semua orang yang mengikuti tradisi ini akan larut dalam suka cita.

Setelah tradisi pemanenan ikan di lubuk larangan dibuka, para warga menceburkan diri ke sungai. Penangkapan ikan pun dimulai. Rata-rata yang mengikuti acara ini adalah para lelaki dewasa dan anak-anak. Setelah ikan tertangkap dan para warga mentas dari sungai, ikan pun dijual. Hasil penjualan ikan dari pembukaan lubuk larangan akan digunakan untuk pembangunan desa, seperti membangun masjid atau sarana umum lainnya atas persetujuan pemuka adat desa. Sangat menarik, bukan?

Sebelum menjalankan Tradisi Lubuk Larangan usahakan Anda dalam keadaan sehat. Untuk menjaga kesehatan konsumsilah selalu produk-produk Synergy WorldWide yang bisa diorder di aplikasi SBiz atau kontak kami langsung.

Demikian info mengenai tradisi lubuk larangan merangin menjaga keberlangsungan ekosistem, kami harap postingan ini bermanfaat buat kalian. Mohon postingan ini diviralkan agar semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Referensi:

Review overview