Home / Wisata Sejarah  / Peninggalan Sejarah  / Watu Pinawetengan Minahasa Jejak Diplomasi Purba

Watu Pinawetengan Minahasa Jejak Diplomasi Purba

Watu Pinawetengan Minahasa

Pada kesempatan ini kami akan jelaskan berkaitan dengan jejak diplomasi purba di Watu Pinawetengan Minahasa. Sekitar tahun 1000 SM, para Leluhur Minahasa tengah merundingkan pembagian sembilan sub etnis. Perundingan itu dihelat di sebuah perbukitan atau tonduraken, yang telah disepakati oleh keturunan Toar dan Lumi’muut, nenek moyang bangsa Minahasa.

Watu Pinawetengan Minahasa

Watu Pinawetengan Minahasa

Diskusi yang melahirkan sembilan sub etnis Minahasa ini dipercaya sebagai wujud demokrasi tertua di Minahasa. Jejak diplomasi purba itu terekam dengan baik melalui gurat-gurat sejarah pada sebuah batu raksasa bernama Watu Pinawetengan.

Sebuah batu besar menyerupai orang yang tengah bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa bercokol di sebuah lahan yang cukup luas. Beberapa ahli bahkan menilai bahwa batu besar itu berbentuk peta pulau Minahasa. Sejarah mengungkapkan bahwa dahulu, lokasi tempat batu ini berada merupakan tempat perundingan leluhur Minahasa.

Maka tak heran, bila batu ini diberi nama Watu Pinawetengan yang berarti Batu Tempat Pembagian. Pembagian ini merujuk pada peristiwa pembagian kesembilan sub etnis yang ada di Minahasa, yang meliputi suku :

  • Tontembuan,
  • Tombulu,
  • Tonsea,
  • Tolowur,
  • Tonsawang,
  • Pasan,
  • Ponosakan,
  • Bantik, dan
  • Siao.

Selain membagi kesembilan sub etnis tersebut, para leluhur juga menggunakan tempat ini sebagai lokasi dirundingkannya semua masalah yang dihadapi.

Pada Watu Pinawetengan Minahasa akan ditemukan berbagai goresan dan motif yang dipercaya sebagai hasil perundingan, Motif tersebut berupa gambar manusia, gambar alat kemaluan lelaki, gambar alat, kemaluan perempuan, motif daun, dan kumpulan garis yang tak beraturan tanpa makna. Bisa dikatakan, bahwa batu ini merupakan tonggak berdirinya sub etnis yang ada di Minahasa, dan berada tepat di tengah­tengah Minahasa.

Meskipun melambangkan sebuah bentuk demokrasi, sejatinya konsep demokrasi yang dilambangkan oleh Watu Pinawetengan lebih mengarah kepada bentuk demokrasi yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Selama ini memang, Tanah Minahasa dikenal sebagai wilayah yang menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman.

Alasan Pemilihan Lokasi

Pemilihan lokasi Watu Pinawetengan Minahasa bukan tanpa alasan. Para leluhur mempertimbangkan kedekatan lokasi perbukitan dengan sumber mata air, lokasi bukit yang berada tepat di tengah-tengah, dan jauh dari gangguan. Tidak ada yang menyangka, bahwa pada tahun-tahun tersebut, leluhur Minahasa telah menggagas ide sejauh ini. Bahkan, mampu merumuskan banyak falsafah hidup yang terdiri dari

  1. Masawawangan yang artinya cipta rasa saling tolong menolong;
  2. Masasan yang artinya cipta rasa persatuan dan kesatuan; dan
  3. Malioliosan (baku-baku bae) yang artinya saling berbuat baik.

Ketiga amanat inilah yang membuat Sam Ratulangi sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia mencetuskan slogan, “Si Tou Timou Tomou Tou” yang memiliki makna bahwa orang hidup bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga hidup bersama dan untuk orang lain.

Berbicara mengenai keberadaan Watu Pinawetengan Minahasa, tak jauh dari lokasi, terdapat batu-batu yang diberi nama Watu Kopero dan Watu Siouw Kurur. Kedua batu tersebut menjadi tanda keberadaan makam para leluhur Minahasa. Mengingat arti penting batu-batu bersejarah ini, pada tanggal 1 Desember 7974, Gubernur Sulawesi Utara, HV Worang meresmikan berdirinya Situs Watu Pinawetengan.

Setelah resmi didirikan, banyak perbaikan fasilitas yang diterapkan di kawasan bersejarah ini. Tepat pasca diterbitkannya UU No. 11 Tahun 2010, Situs Watu Pinawetengan diangkat menjadi bangunan cagar budaya yang dilindungi pemerintah.

Lokasi Situs

Bagi pengunjung yang ingin menyaksikan jejak diplomasi purba leluhur Minahasa ini, dapat bertolak menuju Desa Pinabetengan, Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Akses menuju lokasi memang belum sebaik kawasan wisata lainnya di Minahasa, namun kesejukan udara pegunungan dan panorama khas Minahasa akan menjadi pelipur lara bagi para wisatawan. Namun, ada satu hal yang dapat dijadikan sebuah catatan penting saat berkunjung ke tempat ini.

Watu Pinawetengan Minahasa memang dikenal sebagai tempat yang banyak menyimpan kisah misteri. Tempat sakral ini akan memperlakukan pengunjung sesuai dengan niat di dalam batinnya. Apabila pengunjung memiliki niat yang buruk, maka akan mengalami peristiwa yang kurang menyenangkan di tempat ini. Sebaliknya, apabila pengunjung memiliki hati yang bersih, ia akan diperlakukan dengan baik, dan bahkan mendapatkan keberuntungan selepas berkunjung ke lokasi.

Situs Watu Pinawetengan tidak pernah sepi pengunjung. Bagi pengunjung yang tertarik mengikuti beberapa ritual di tempat ini dapat berkunjung setiap tanggal 3 Januari, di mana masyarakat mengadakan ziarah di tempat ini. Tak hanya itu, setiap tanggal 7 Juli, di tempat ini rutin diadakan pertunjukan seni dan budaya Minahasa, yang tentu sayang untuk dilewatkan.

Kesakralan dan kemagisan tempat ini sekiranya dapat menjadi alasan utama bagi wisatawan yang tertarik menyelami budaya Minahasa. Selain tentunya memperoleh berkat dan pengalaman spritual yang tak terlupakan selama berkunjung ke situs megalithikum tertua di Minahasa ini. Tertarik berkunjung?

Sebelum melihat Watu Pinawetengan Minahasa usahakan Anda dalam keadaan sehat. Untuk menjaga kesehatan konsumsilah selalu produk-produk Synergy WorldWide yang bisa diorder di aplikasi SBiz atau kontak kami langsung.

Demikian informasi mengenai Watu Pinawetengan Minahasa Jejak Diplomasi Purba, kami harap post kali ini berguna buat kalian. Tolong post ini diviralkan agar semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Referensi:

 

Review overview