Di postingan ini kami akan jelaskan berkaitan dengan Menjadi Wisatawan Berkelas dengan Menjaga Etika saat Liburan. Momen liburan memang momen yang ditunggu oleh banyak orang, terutama bagi mereka yang bekerja dengan penuh tekanan serta jarang mendapatkan kesempatan untuk libur. Tak jarang orang yang berlibur rela menggelontorkan uang dalam jumlah banyak agar mereka bisa melepaskan rasa stres yang didapatkan saat bekerja.

Menjadi Wisatawan Berkelas dengan Menjaga Etika saat Liburan

Menjadi Wisatawan Berkelas dengan Menjaga Etika

Melepas stres ini kemudian mereka lakukan dengan berbagai cara seperti pergi ke tempat dengan pemandangan yang indah hingga ke taman bermain yang memacu adrenalin. Dalam berlibur, orang biasanya benar-benar melepaskan beban mereka. Dalam artian lain, orang yang pergi liburan biasanya akan memakai pakaian yang mereka suka. Tidak peduli apapun bentuknya serta bertingkah laku yang cenderung semaunya. Hal tersebut kemudian mereka dasarkan pada alasan yang sama yaitu untuk melepas penat.

Padahal, sejatinya liburan bukanlah momen untuk bertindak tanpa batasan, mengingat tempat liburan adalah tempat umum yang juga digunakan oleh orang lain. Tak jarang, karena tingkah laku semaunya ini, turis menjadi dibenci oleh sesama turis, bahkan warga sekitar. Guna menghindari hal tersebut, ada beberapa cara yang bisa dilakukan.

Pelajari dengan baik seluk beluk mengenai destinasi tujuan liburan

Hal ini jelas sangat perlu dilakukan. Terlebih apabila destinasi liburan tempatnya jauh dari tempat tinggal dan memiliki perbedaan budaya. Dengan mempelajari destinasi liburan dan mengenal budaya di tempat liburan, kemungkinan gesekan karena perbedaan budaya dan kebiasaan bisa dihindari.

Sesuaikan barang bawaan dengan tempat tujuan

Setelah mempelajari destinasi, cocokkan barang bawaan dengan tempat tujuan. Hal ini menjadi sangat penting mengingat beberapa tempat dengan budaya yang berbeda terkadang melarang atau bahkan menganjurkan turis untuk membawa suatu barang. Seorang turis juga perlu memperhatikan hal ini. Agar ke depan, risiko mendapat turis yang norak dan semaunya sendiri bisa dihindari.

Cocokkan pakaian dengan tempat liburan

Langkah ini bisa dibilang sebagai langkah yang sangat krusial dalam pergi liburan. Contoh sederhana dari hal ini adalah ketika pergi berwisata ke tempat yang kental akan nuansa agama budaya, usahakan agar tidak menggunakan pakaian yang terbuka. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menghargai destinasi dan warga yang tinggal di sekitar destinasi tersebut.

Bertingkah laku wajar dan taati peraturan!

Ini adalah hal terakhir agar bisa menjadi wisatawan yang berkelas saat liburan. Banyak wisatawan tidak memperhatikan lingkungan tempat mereka liburan dan bertindak seenaknya. Sebagai contoh, banyak wisatawan yang malah menginjak-injak situs peninggalan sejarah demi mendapatkan foto yang bagus. Padahal, situs tersebut adalah situs yang berusia ratusan tahun yang sangat rapuh dan rentan rusak.

Hindari untuk mencoret-coret situs wisata

Contoh lain adalah hobi mencoret-coret situs wisata. Beberapa orang mungkin tidak melakukannya. Mereka lebih senang menikmati tempat dan berfoto untuk mengabadikan kenangan. Namun sayang, beberapa yang lain mengabadikannya dengan cara mencoret-coret fasilitas dan tempat umum destinasi liburan.

Jelas apabila hal ini dilakukan, turis bukan mendapat rasa hormat dari warga, malahan mendapat reaksi yang negatif. Reaksi negatif yang muncul ini jelas bukan hanya dari warga sekitar namun juga dari sesama turis yang merasa tidak nyaman.

Langkah-langkah di atas merupakan upaya untuk menjadi wisatawan berkelas ketika liburan. Bukan tanpa alasan. Dengan menjadi wisatawan berkelas yang dihormati, kebanggaan pribadi jelas bisa diraih. Bukan tidak mungkin justru akan membuka jalan untuk meraih keuntungan di masa depan.

Demikian info mengenai Menjadi Wisatawan Berkelas dengan Menjaga Etika saat Liburan, kami harap artikel ini membantu kalian. Kami berharap artikel ini disebarluaskan supaya semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Referensi:

Ternyata belajar internet itu mengasyikan, apalagi bisa punya penghasilan 20 jutaan per bulan... rasanya gimana gitu... Tapi gimana cara belajarnya?? Klik gambar di bawah untuk dapat solusinya

Sekarang kami akan ulas seputar liburan ke pulau penyengat yang mengagumkan. Pulau Penyengat adalah pulau kecil seluas dua kilometer persegi atau kurang lebih 240 hektare dan merupakan satu dari sekian banyak pulau yang tersebar di wilayah Kepulauan Riau. Pulau ini berjarak sekitar enam kilometer dari Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Pulau Penyengat merupakan mahar pernikahan dari Sultan Mahmud kepada Engku Putri Raja Hamidah, putri dari raja Haji Fisabilillah.

Liburan ke Pulau Penyengat

Liburan Ke Pulau Penyengat yang Mengagumkan

Pulau Penyengat muncul dalam sejarah Melayu yaitu pada awal abad ke-18 M. Di mana saat itu meletus perang saudara di Kerajaan Johor – Riau yang kemudian melahirkan Kerajaan Siak di daratan Sumatra. Pulau ini menjadi penting lagi ketika berkobarnya perang Riau pada akhir abad ke-18 yang dipimpin oleh Raja Haji Fisabilillah, yang pada tahun 1997 diangkat sebagai pahlawan nasional. Raja Haji menjadikan pulau ini sebagai kubu penting yang dijaga oleh orang-orang asal Siantan dari kawasan Pulau Tujuh di Laut Cina Selatan.

Cerita rakyat yang lain menyebutkan nama Pulau Penyengat diambil dari nama binatang sejenis lebah yang dikenal dengan nama penyengat. Awalnya, pulau ini dikenal orang sebagai tempat mengambil air dalam pelayaran yang melintasi kawasan ini. Konon, pada suatu hari para saudagar yang mengambil air di pulau ini diserang oleh binatang sejenis lebah tersebut. Pihak Belanda menjuluki pulau ini dengan dua nama yakni Pulau Indera dan Pulau Mars. Kini pulau ini lebih dikenal dengan nama Penyengat Inderasakti.

Untuk liburan ke Pulau Penyengat, wisatawan bisa menyebrang menggunakan pompon dari pelabuhan yang lokasinya tidak jauh dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjung Pinang. Pompong adalah sejenis perahu motor kecil berbadan kayu yang menggunakan mesin temple. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10 menit perjalanan. Pompong ini baru akan berangkat kalau penumpangnya sudah mencapai 12 orang.

Tapi tidak usah khawatir akan menunggu lama, karena pompong ini juga merupakan sarana transportasi sehari-hari bagi penduduk Tanjung Pinang dan Pulau Penyengat, jadi setiap saat pasti ada warga yang menyebrang. Dari dalam pompong wisatawan bisa menyaksikan bangunan masjid yang berwarna kuning. Itulah Masjid Raya Sultan Riau atau lebih dikenal dengan nama Masjid Penyengat. Dilihat dari laut, bangunan Masjid Raya Sultan Riau tampak megah, keempat menaranya terlihat anggun menjulang menyambut hangat para wisatawan yang datang.

Masjid Raya Sultan Riau

Satu bangunan yang tidak boleh dilewatkan kalau liburan ke Pulau Penyengat adalah masjidnya yaitu Masjid Raya Raya Sultan Riau. Masjid dengan warna kuning yang khas ini menjadi salah satu bangunan istimewa di Pulau Penyengat. Keistimewaan itu terletak pada bahan yang digunakan untuk membangun masjid tersebut.

Masjid Raya Sultan Riau dibangun dengan menggunakan campuran putih telur untuk memperkuat dinding kubah, menara dan bagian lainnya. Konon, dibutuhkan telur berkapal-kapal untuk mendirikan masjid Raya ini. Sedangkan kuning telurnya digunakan untuk mewarnai dinding dan kubah masjid.

Masjid Raya Sultan Riau didirikan pada 1 Syawal 1249 Hijriah atau pada tahun 1832 Masehi. Masjid ini didirikan oleh Raja Abdul Rahman Yang Dipertuan Muda VII. Masjid ini mempunyai 17 buah kubah. Hal ini sesuai dengan jumlah rakaat shalat wajib dalam sehari semalam.

Masjid ini berukuran 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya berukuran 29,3 x 19,5 meter, disangga oleh empat buah tiang. Di halaman masjid terdapat dua buah rumah sotoh, yang biasa digunakan sebagai tempat singgah bagi para musafir dan berfungsi juga sebagai tempat musyawarah.

Sayangnya para wisatawan yang liburan ke Pulau Penyengat tidak diizinkan untuk memotret bagian dalam masjid ini, padahal banyak yang menarik di dalam masjid ini. Salah satunya adalah sebuah mushaf Al-qur’an yang ditulis tangan oleh Abdurrahman Istambul, seorang putra Riau yang dikirim belajar ke Turki pada tahun 1867 M. Mushaf Al-qur’an ini diletakkan dalam sebuah kotak kaca.

Selain mushaf Al-qur’an, juga terdapat kitab-kitab kuno yang merupakan koleksi dari perpustakaan yang didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf al Ahmad Yang Dipertuan Muda Riau X. Dan koleksi itu bisa dilihat di masjid ini saat wisatawan liburan ke Pulau Penyengat.

Ruangan dalam masjid tidak terlalu luas. Dinding bagian dalam masjid berwarna putih, terlihat kontras dengan karpet yang berwarna hijau. Mimbarnya terbuat dari kayu jati dengan ukiran khas jepara. Di salah satu bagian masjid juga terpasang lampu Kristal yang merupakan hadiah dari Kerajaan Prusia di Jerman.

Istana Kerajaan Riau

Peninggalan lainnya yang masih bisa disaksikan saat liburan ke Pulau Penyengat adalah Bangunan Istana Kantor. Bangunan ini letaknya tidak jauh dari Masjid Raya Sultan Riau. Istana ini merupakan Kantor Pemerintahan Kerajaan Riau yang pertama. Sayang kini sebagian fisik dari bangunan Istana Kantor ini telah hancur. Balai Adat Melayu Indera Perkasa, merupakan satu-satunya bangunan yang tidak berwarna kuning sebagaimana bangunan lainnya yang ada di pulau ini.

Balai Adat Melayu ini merupakan replika dari rumah adat Melayu yang berbentuk panggung dengan corak Melayu yang khas. Di dalam Balai Adat Melayu ini terdapat pelaminan khas Melayu yang full colour. Di depan Balai Adat Melayu ada sebuah pelantar beton yang menjorok ke laut. Kalau cuaca sedang cerah, pemandangan akan terlihat cantik dari pelantar beton ini.

Bukit Kursi

Selain itu bila liburan ke Pulau Penyengat Anda bisa mengunjungi Bukit Kursi yang tingginya sekitar 150 m dari permukaan laut. Inilah titik tertinggi di Pulau ini. Pemandangan dari puncak bukit ini benar-benar indah. Bukit Kursi ini, pada masa penjajahan dulu merupakan benteng bagi para pejuang Indonesia untuk mempertahankan diri dari serangan penjajah Belanda.

Di puncak bukit ini, wisatawan masih bisa menyaksikan peninggalan-peninggalan perang zaman dulu, seperti meriam dan parit yang digunakan sebagai jalur untuk menyuplai bubuk mesiu bagi meriam-meriam yang ada di puncak bukit.

Di bawah bukit ada sebuah bangunan yang disebut Gedung Mesiu yang bisa wisatawan lihat saat liburan ke Pulau Penyengat. Di tempat inilah bubuk mesiu untuk keperluan perang disimpan. Bukit ini benar-benar merupakan benteng pertahanan yang sempurna, karena puncaknya terlindungi oleh pohon-pohon rindang.

Terdapat beberapa pondok kayu yang bisa digunakan sebagai tempat beristirahat di puncak Bukit Kursi. Pohon-pohon rindang yang ada membuat suasana di puncak Bukit Kayu terasa begitu nyaman.

Transportasi Berkeliling Pulau Penyengat

Untuk berkeliling saat liburan ke Pulau Penyengat, wisatawan bisa berjalan kaki ataupun menggunakan transportasi wisata yang ada. Misalnya menggunakan becak motor atau biasa disebut bemor. Dengan biaya yang relatif murah, wisatawan bisa diajak berkeliling melihat-lihat peninggalan sejarah yang ada di Pulau Penyengat dengan menggunakan bemor. Satu bemor muat untuk dua orang penumpang.

Keuntungan lain kalau memilih naik bemor adalah wisatawan bisa memperoleh informasi menarik mengenai tempat-tempat bersejarah yang ada di pulau ini dari supir bemor. Karena supir bemor di pulau ini juga merangkap sebagai tour guide dan fotografer dadakan. Tempat-tempat peninggalan sejarah yang bisa wisatawan kunjungi di pulau ini adalah kompleks makam raja-raja dan tokoh-tokoh penting pada zaman Kerajaan Riau Lingga.

Saat liburan ke Pulau Penyengat wisatawan bisa berziarah ke makam tokoh-tokoh penting. Di antaranya adalah makam pahlawan nasional Raja Ali Haji yang dikenal sebagai Bapak Bahasa Melayu Indonesia. Karya beliau yang terkenal adalah Gurindam Dua Belas. Makam Raja Ali Haji berada di kompleks yang sama dengan makam Engku Putri Raja Hamidah.

Selain makam Raja Ali Haji dan makam Engku Putri Raja Hamidah, masih terdapat beberapa kompleks makam lainnya di pulau ini. Di antaranya adalah makam Raja Haji Fisabilillah Yang Dipertuan Muda Riau IV, makam Raja Jakfar Yang Dipertuan Muda RiauVI, dan makam Raja AbdulrahmanYang Dipertuan Muda Riau VII.

Wisata Kuliner

Tidak lengkap rasanya jika liburan ke Pulau Penyengat ini tanpa mencicipi kuliner khasnya. Makanan khas Pulau Penyengat yaitu kue deram-deram. Kue ini bentuknya seperti donat, hanya saja ukurannya lebih kecil. Kue ini terbuat dari tepung beras dan gula merah serta rasanya manis.

Demikian informasi tentang liburan ke pulau penyengat yang mengagumkan, kami harap artikel ini mencerahkan Anda. Tolong artikel Wisata di Kepulauan Riau ini disebarluaskan agar semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Referensi:

Topik kita kali ini ialah berpetualang di Kalimantan Selatan dengan spot seru dan menarik. Berwisata ke Kalimantan Selatan (Kalsel) yang terlintas pada wisatawan adalah petualangan menyusuri Sungai Barito yang terkenal dengan pasar apungnya. Tetapi di provinsi yang mendapat julukan Banua ini juga menawarkan petualangan yang tidak kalah seru seperti mendaki Gunung Rimpi, menjelajahi Taman Labirin, melihat rumah adat Kalsel.

Berpetualang di Kalimantan Selatan

Berpetualang di Kalimantan Selatan

Kalsel merupakan salah satu provinsi di Kalimantan dengan ibu kotanya Banjarmasin. Provinsi ini terdiri 11 kabupaten dan 2 kota yang banyak didiami suku bangsa di antaranya Suku Banjar Kuala, Suku Banjar Pahuluan, Suku Berangas, Suku Bakumpai, Suku Abal. Kecuali itu, Kalsel juga merupakan salah satu destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Jika ingin berpetualang di Tanah Borneo, wisatawan akan mendapatkan banyak pilihan objek wisata antara lain wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata minat khusus, wisata kuliner, wisata olahraga, wisata belanja dan lain sebagainya.

Pesona Gunung Rimpi

Salah satu tempat berpetualang di Kalimantan Selatan yaitu Bukit Rimpi. Bukit ini berada di Pelaihari Kabupaten Tanah Laut dan dijuluki Bukit Teletubies, karena bentuk tekstur bukit tersebut landau, tidak curam seperti bukit di film Teletubies. Apabila ditempuh dari Banjarmasin melalui jalur darat sekitar 2 jam perjalanan.

Pelaihari bisa dibilang kota dengan dataran tinggi, sehingga tidak heran jika banyak terdapat gunung maupun bukit. Di antaranya Gunung Kayangan yang merupakan salah satu objek wisata terkenal di Pelaihari dan kini ditambah Bukit Rimpi. Dulu, Bukit Teletubies bukan tempat wisata, tapi digunakan masyarakat sekitar untuk menggembala sapi.

Namun karena panorama yang indah dan menakjubkan, kini Bukit Rimpi menjadi sasaran pendaki gunung dan wisatawan khususnya dari wilayah Kalsel. Oleh karena itu berpetualang di Kalimantan Selatan kurang lengkap bila tidak ke Bukit Rimpi. Selain itu wisatawan juga tidak dikenakan biaya masuk, hanya biaya parker kendaraan. Meski hanya butuh waktu 15 hingga 20 menit untuk mendaki gunung tersebut dengan berbagai rute, terdapat objek bagi yang tidak ingin bersusah payah mendaki.

Objek wisata ini masih baru dan membuat banyak orang penasaran, sehingga wisatawan berbondong-bondong untuk pergi ke sana hanya untuk menikmati keindahan, berburu foto ataupun sekedar refreshing. Pemandangan Bukit Rimpi indah di tengah hamparan padang ilalang, dikelilingi perkebunan kelapa sawit, gunung-gunung dan sapi yang dengan lahap memakan rumput dibiarkan bebas lepas.

Taman Labirin

Selanjutnya tempat berpetualang di Kalimantan Selatan yang seru adalah Taman Labirin. Taman Labirin Pelaihari terletak tidak jauh dari Kota Banjarbaru atau sekitar 30 KM, tepatnya berada di agrowisata di area milik Balai Pengkajian dan Pengembangan Pertanian Terpadu (BP3T) Tambang Ulang, Tanah Laut yang dibuka dari Senin-Jum’at pada pukul 13.00 hingga sore. Sementara hari Sabtu buka dari pukul 08.00.

Labirin adalah sebuah sistem jalur yang rumit, dan berliku-liku serta punya banyak jalan buntu. Di Kabupaten Tanah Laut, pengunjung bisa mencoba merasakan sensasi masuk ke dalam labirin raksasa terbuat dari tanaman rimbun yang direkayasa sedemikian rupa.

Taman Labirin ini merupakan taman terbesar dan terluas di Indonesia. Labirin ini merupakan sebuah taman yang berdinding tanaman menyerupai tembok pembatas. Tinggi tembok pembatas ini yaitu setinggi manusia dan membentuk lorong-lorong dimana tujuan akhir memasuki labirin ini adalah mencapai jalan keluar. Oleh karena itu taman ini cocok sebagai tempat berpetualang di Kalimantan Selatan yang seru dan unik.

Selain unik dan nyaman, di area agrowisata ini tidak hanya Taman Labirin yang bisa ditemui. Terdapat juga penangkaran rusa tutul, danau buatan yang sangat nyaman untuk bersantai, peternakan unggas, kolam ikan dan sebagainya.

Taman Labirin ini sangat cocok bagi yang ingin mengisi liburan dengan hal yang berbeda dan baru pertama ada di Kalsel. Selain fasilitas Taman Labirin di lahan seluas 105,2 hektare ini juga terdapat fasilitas outbound yang representative dan kebun buah sebagai daya tarik wisata tersendiri.

Di tengah Taman Labirin dibuat sebuah menara kurang lebih setinggi 4 meter yang bisa digunakan pengunjung jika ingin melihat taman dari atas. Namun harus bergantian dan hati-hati menaikinya karena tempatnya terbuka.

Rumah Adat Banjar

Jika berkunjung dan berpetualang di Kalimantan Selatan singgahlah ke salah satu rumah adat Banjar yang menjadi cagar budaya dilindungi. Rumah adat ini letak tepatnya di Kota Martapura, ibu kota Kabupaten Banjar. Rumah adat Banjar ini yaitu Bumbungan Tinggi dan Gajah Baluku di Teluk Selong Ulu Martapura Barat. Rumah adat ini masih dihuni oleh keturunan pemiliknya yaitu HM Arif dan HJ Fatimah yang telah dibiarkan seperti aslinya dengan seluruh komponen bangunan terbuat dari kayu.

Martapura merupakan sebuah kota penghasil intan terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Di Kota ini banyak terdapat penambang intan. Di samping itu intan dan berlian di Martapura punya kualitas yang baik sehingga jadi tempat berburu intan. Untuk melihat hasil olahan intan dan berlian tersebut cukup datang di Pasar Intan Martapura yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Banjar.

Jembatan Barito

Spot seru lainnya saat berpetualang di Kalimantan Selatan yaitu Jembatan Barito. Jembatan ini berada di Kabupaten Barito Kuala yang berjarak 15 km dari Kota Banjarmasin. Jembatan Barito mempunyai panjang 1.082 meter yang melintasi Sungai Barito selebar 800 meter dan juga Pulau Bakut selebar 200 meter. Jembatan ini juga terdiri dari jembatan utama sepanjang 902 meter dan jembatan pendekat 180 meter dengan lebar 10,37 meter.

Jembatan Barito menjadi akses jalan Trans Kalimantan dari Banjarmasin menuju ke Palangkaraya dan juga sebaliknya. Ketinggian ruang bebas dari jembatan utama yaitu 15 – 18 meter, sehingga dapat dipakai untuk lalu lintas perairan seperti Kapal Tongkang.

Jembatan Barito sering disebut pula Jembatan Pulau Bakut, sesuai nama pulau kecil atau delta yang ada di bawahnya. Sebelum ada Jembatan Barito ini masyarakat sangat mengandalkan jalur transportasi sungai memakai kapal bermotor untuk menuju ke Banjarmasin atau sebaliknya.

Pasar Apung

Semakin jauh Jika berpetualang di Kalimantan Selatan, jangan lupa berpetualang ke Pasar Apung. Ada dua pasar apung yang dapat dikunjungi di Kalsel yaitu pasar apung di Muara Kuin dan Lok Baintan. Pasar apung di Muara Kuin dapat ditempuh dari pusat kota Banjarmasin menggunakan Kelotok atau kapal kecil atau dari beberapa tempat penyewaan kelotok seperti di depan Makam dan Masjid Sultan Suriansyah serta di dermaga.

dari lokasi maka semakin mahal harga sewa kelotoknya, dari yang terdekat berkisar sekitar Rp 150 ribu sampai yang lebih jauh seperti dari Masjid Sultan Suriansyah Rp 300 ribu per kapal. Satu kelotok bisa menampung hingga 10 penumpang.

Di pasar apung Muara Kuin, pengunjung akan disuguhi bagaimana rasanya tidak ada daratan, melakukan aktivitas semuanya di atas air, belanja bahan-bahan kebutuhan pokok pangan harus cekatan dari jukung ke jukung atau sampan. Jangan khawatir bagi pengunjung yang belum sempat sarapan karena berangkat ke pasar apung ini pagi-pagi. Di pasar apung ini banyak penjaja kue-kue dan jajanan maupun nasi bak restoran di atas air.

Namun sekarang, objek wisata untuk berpetualang di Kalimantan Selatan ini kian hari kian berkurang. Karena semakin terdesak oleh budaya darat yang semakin dimudahkan. Tanpa adanya tindak lanjut dari pemerintah, mungkin beberapa tahun ke depan pasar terapung ini akan tinggal kenangan.

Selain pasar apung ada juga objek wisata yang tidak kalah menarik yaitu Pulau Kembang. Pulau Kembang adalah sebuah delta yang terletak di tengah Sungai Barito yang termasuk di dalam wilayah Kecamatan Alalak, Barito Kuala. Pulau ini merupakan habitat bagi kera ekor panjang dan beberapa jenis burung serta ditetapkan sebagai hutan wisata.

Sebelum berpetualang di Kalimantan Selatan usahakan Anda dalam keadaan sehat dan bugar. Untuk menjaga kesehatan konsumsilah produk Synergy WorldWide yang dapat Anda pesan di aplikasi SBiz atau hubungi langsung kami.

Demikian info berkaitan dengan Berpetualang di Kalimantan Selatan dengan Spot Seru dan Menarik, semoga post kali ini mencerahkan kawan-kawan semua. Mohon post wisata Kalimantan Selatan ini dibagikan agar semakin banyak yang mendapatkan manfaat.

Referensi :

Topik kita sekarang yakni melihat penangkaran beruang madu di Balikpapan, Kalimantan Timur. Salah satu tempat wisata di Balikpapan yaitu Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) di Jalan Soekarno-Hatta Km. 23 Balikpapan. Kawasan hutan seluas 15 hektare ini merupakan rumah bagi hewan langka dan dilingungi yaitu Beruang Madu (Helarctos Malayanus) sekaligus maskot Kota Balikpapan.

Melihat Penangkaran Beruang Madu

Melihat Penangkaran Beruang Madu di Balikpapan

Lokasi penangkaran beruang madu atau KWPLH ini berada di km23, dari arah Balikpapan ke Samarinda. Di sebelah kanan jalan akan terlihat gapura dan tugu dengan gambar beruang madu. Setelah 1 km masuk dari gapura tersebut, pengunjung akan disambut boneka beruang madu berukuran dua meter di pintu masuk KWPLH. Menurut penjaga KWPLH, Beruang Madu adalah jenis beruang terkecil dari beruang lainnya. Berat badannya berkisar 30-65 kg dengan panjang badan yang berkisar 110-120 cm. Meskipun kecil, beruang madu memiliki lidah dan kuku depan yang terpanjang.

Beruang Madu tergolong dalam ordo carnivora, namun berperilaku seperti omnivora seperti manusia. Beruang madu makan beragam makanan termasuk banyak jenis serangga dan buah-buahan. Kadang-kadang pula Beruang madu suka makan bunga.

Sebelum naik tangga untuk melihat beruang madu, pengunjung diberi penjelasan dulu agar tidak memberi makan pada Beruang madu, tidak merokok, tidak berisik dan harus tenang. Beruang madu termasuk satwa yang soliter, mereka tidak hidup dalam kelompok tetapi mencari makanan, berjalan dan bersantai sendirian serta pemalu.

Selalu Waspada saat ke KWLPH

Agar bisa melihat penangkaran beruang madu, pengunjung bisa melihat dari jembatan. Jarak antara jembatan dan lokasi hutan tempat beruang madi dikelilingi kawat berpagar tinggi. Dan juga di atasnya dialiri listrik arus rendah yang hanya mempunyai efek kejut. Hal ini disebabkan beruang madu bisa memanjat sampai puluhan meter dan dikhawatirkan bisa menyeberang jembatan kea rah pengunjung.

Beruang madu akan berkumpul jika diberi makan pada waktu pagi hari pukul 09.00 WITA dan sore hari pukul 16.00 WITA. Pengunjung bisa datang di saat mereka makan, disediakan tempat khusus untuk menonton dengan jarak dan batas yang aman.

Enklosur beruang madu yang ada di KWPLH ini merupakan enklosur kedua di Indonesia, setelah enklosur di Samboja Lestari. Berdiri di lahan seluas 1,3 hektare, namun ini sudah cukup untuk menampung sekitar enam beruang yang ada saat ini. Tidak ada pungutan apa pun untuk menikmati enklosur ini, semua orang berhak melihat salah satu hewan yang dilindungi tersebut.

Di Balikpapan, keberadaan enklosur beruang madu tentunya menjadi salah satu daya tarik karena setiap akhir pekan, pengunjung KWPLH bisa mencapai seribu orang. Setelah puas melihat tingkah polah beruang madu serta mengabadikannya dari dekat, pengunjung bisa mengunjungi Pergola “Pusat Informasi Beruang”.

Tempat ini juga didesain khusus sehingga memudahkan anak-anak dalam memahami jenis-jenis beruang di dunia. Oleh sebab itu, tempat ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai sarana wisata pendidikan keluarga khususnya anak-anak. Di tempat ini pengunjung akan tahu berbagai macam beruang, habitatnya, makanannya dan hal-hal lain yang berkaitan dengan beruang.

Demikian informasi tentang Melihat Penangkaran Beruang Madu, kami harap artikel ini bermanfaat untuk kalian. Kami berharap artikel Wisata di Kalimantan Timur ini disebarluaskan biar semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi:

Ketika Anda berkunjung ke Banda Aceh, jangan lupa berkunjung ke Museum Tsunami Aceh. Museum Tsunami tidak jauh dari taman Gunongan ke arah barat. Bangunan modern tersebut (Museum Tsunami) terlihat begitu kontras karena terletak di tengah-tengah situs kuno dan sejarah kota Banda Aceh.

Berkunjung ke Museum Tsunami Aceh

Berkunjung ke Museum Tsunami di Banda Aceh

Di antara situs kuno tersebut yaitu Kherkhoff Peutjut yang merupakan makam militer terbesar yang terletak di tengah kota serta lapangan Blang Padang yang dilengkapi dengan monumen Pesawat RI 001. Museum Tsunami Aceh merupakan karya walikota Bandung, Ridwan Kamil. Bangunannya megah, dindingnya seperti dilapisi sulaman rotan. Bentuknya yang unik membuatnya menjadi sebuah primadona baru di tengah bangunan-bangunan kuno yang menawan.

Untuk masuk Museum Tsunami pengunjung tidak dikenakan biaya. Setelah menitipkan tas dan barang bawaan pengunjung bisa masuk melalui sebuah lorong sempit, gelap dan hanya ada gemuruh air. Lorong Tsunami Space of Fear namanya.

Ketinggian Lorong

Ketinggian lorong mencapai sekitar 19 s/d 23 m, melambangkan ketinggian air tsunami kala itu. Sebuah lorong dengan sensasi yang tidak biasa. Sengaja dibuat demikian agar setiap pengunjung yang datang bisa tahu seperti apa rasanya digulung tsunami. Air yang hitam pekat, sesekali setitik cahaya datang, sesekali gelap menghampiri.

Sumur Doa

Selanjutnya pengunjung yang berkunjung ke Museum Tsunami ini akan menemukan sebuah ruangan yang disebut Sumur Doa. Dalam ruangan sumur doa ini terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-qur’an. Disebut Sumur Doa karena ruangan ini mirip sumur dengan bagian atapnya berupa sebuah cerobong kapal uap. Di bagian ujungnya ada lafazh Allah. Di setiap sisi dinding yang berbentuk lingkaran ini, tertera begitu banyak papan nama. Nama para korban tsunami.

Lorong Cerobong

Setelah dari sumur doa, pengunjung akan menuju Lorong Cerobong (Space of Confuse). Melewati lorong yang didesain berkelok dan lantai yang tidak rata sebagai filosofi dari perasaan para korban tsunami. Lorong Cerobong ini terus mengular berputar sampai ke atas, semakin ke atas semakin terang. Melambangkan bahwa sehabis gelap, terbitlah terang. Di mana sebuah harapan selalu ada setelah musibah datang.

Jembatan Harapan

Di ujung lorong, pengunjung yang berkunjung ke Museum Tsunami akan mendapati Space of Hope (Jembatan Harapan). Yaitu sebuah jembatan terbentang melintang menghubungkan ke lantai selanjutnya. Di bagian atas tergantung banyak bendera dari negara-negara yang telah membantu Aceh kembali bangkit dari musibah gempa dan tsunami Aceh.

Ruangan Museum

Museum Tsunami terdiri dari empat lantai. Di lantai selanjutnya terdapat ruang-ruang pamer, ruang simulasi tsunami dan ruang audio visual. Tetapi hal tersebut bisa dilihat jika lantai paling atas yaitu lantai empat terbuka untuk pengunjung. Di lantai tiga, pengunjung bisa melihat-lihat miniatur kota Banda Aceh sesaat setelah tsunami, foto-foto tsunami, replika kejadian tsunami dan lain sebagainya.

Sekian info mengenai berkunjung ke museum tsunami untuk mengenang tragedi 2004, semoga artikel kali ini mencerahkan sahabat semua. Kami berharap artikel Wisata di Aceh ini dishare agar semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Referensi:

Pada kesempatan ini kami akan ulas seputar sopan santun menyambangi objek wisata religi. Banyak objek wisata berjenis heritage atau peninggalan sejarah yang sebenarnya tempat ibadah atau tempat warga yang menganut kepercayaan tertentu mengajarkan ritualnya. Meski usianya sudah ratusan tahun atau ribuan tahun, objek wisata heritage berwujud tempat ibadah masih menarik untuk dikunjungi.

Sopan Santun Menyambangi Objek Wisata Religi

Sopan Santun Menyambangi Objek Wisata Religi

Contohnya Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah atau makam-makam Wali Songo yang banyak terdapat di Pulau Jawa. Begitu juga halnya dengan tempat ibadah yang baru belakangan dibangun, juga tidak kalah menghadirkan pesonanya untuk dikunjungi. Misalnya, Masjid Kubah Emas di Kota Depok, Jawa Barat.

Saat mengunjungi objek-objek wisata tersebut, ada beberapa batasan yang sebaiknya Anda pahami. Berikut ini beberapa tips umum atau aturan sopan santun menyambangi objek wisata religi yang wajib Anda simak. Aturan ini mesti dilakukan jika ingin berwisata ke tempat ibadah baik dalam maupun luar negeri :

Melapor Penjaga Tempat Ibadah saat Berkunjung

Selalu melapor atau menemui penjaga tempat ibadah saat Anda dating. Banyak tempat ibadah yang dijadikan kawasan wisata memiliki ruang tiket atau lapor. Kalaupun tidak, Anda bisa menemui penjaganya. Mungkin tidak wajib tapi ini demi menghormati dan menghindari kesalahpahaman. Lebih penting lagi tanyakanlah aturan dan batasan turis atau orang asing yang berkunjung. Bukan hanya batasan wilayah tetapi juga batasan tingkah laku.

Jangan Kaget Jika Diminta Menyumbang

Jangan kaget atau tersinggung jika dimintai uang sumbangan di kawasan wisata tempat ibadah. Anggap itu hal yang lumrah. Biasanya para penjaga atau manajemen tempat ibadah tidak meminta banyak uang sumbangan bahkan ada yang seikhlasnya saja.

Agar mudah, tanyakan kepada orang local, staf hotel atau pemandu wisata tentang harga yang wajar untuk menyumbang tempat ibadah. Selain itu tanyakan juga dari awal apakah ada bayaran atau sumbangan dan tegaskan dari awal. Ini menjadi penting agar tidak punya kesan “dipalak” atau “dirampok”. Ini jadi salah satu bentuk sopan santun menyambangi objek wisata religi tertentu

Kenakan busana tertutup dan sopan

Jangan ke tempat ibadah, ke istana negara di semua negara pun memberikan aturan ketat terhadap standar kesopanan pakaian. Minimal jangan tangtop atau tangan buntung dan celana pendek. Pakailah celana di bawah lutut. Jangan juga celana atau baju ketat. Amannya bawalah scraf yang bisa dijadikan penutup bagian tubuh misalnya dada, rambut bahkan bisa dijadikan sarung bila dibutuhkan.

Lepaslah alas kaki

Demi alasan keamanan dan kemudahan memang sebaiknya bawa selalu kantung plastik untuk menyimpan alas kaki, baik sepatu atau sandal. Kalau bisa bawa kaos kaki agar kaki tidak terlalu kotor. Kaos kaki juga bisa menghindari tapak kaki dari kepanasan. Kalau terlalu panas bisa membuat kaki melepuh.

Perhatikan Aturan Tempat Ibadah

Sopan santun menyambangi objek wisata religi juga berkaitan dengan aturan dari tempat peribadatan yang dikunjungi. Bagi perempuan yang sedang menstruasi, perhatikan aturan agama tempat ibadah yang didatangi. Beberapa tempat ibadah, seperti masjid atau pura, memiliki aturan agama yang melarang perempuan menstruasi masuk ke dalam gedungnya.

Siapkan Mental dan Sikap

Jangan mengganggu orang yang datang untuk beribadah, walau hanya suara apalagi kamera. Walau tidak terlihat mengganggu, suara atau kamera tetap akan mengganggu konsentrasi orang yang beribadah. Jangan sekali-kali menunjukkan rasa aneh apalagi merendahkan atau mencibir cara ibadah dalam tempat ibadah. Masing-masing agama dan kepercayaan memiliki cara ibadah masing-masingyang kadang memang sulit diterima akal dan perasaan agama dan kepercayaan lain. Semua kembali kepada sikap untuk saling menghormati sesama umat beragama.

Demikian informasi terkait dengan Sopan Santun Menyambangi Objek Wisata Religi, semoga artikel ini mencerahkan kalian. Tolong artikel ini diviralkan agar semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Referensi:

Di artikel ini kami akan bahas perihal Mengintip Penangkaran Buaya 3 Jenis di Balikpapan. Balikpapan meski belum dikenal sebagai tempat tujuan wisata, bukan berarti tidak ada yang bisa dinikmati ketika singgah di kota minyak ini. Penangkaran Buaya Teritip Balikpapan terletak di 28 km dari pusat kota. Melihat buaya di habitat aslinya mungkin akan membuat sebagian besar orang ketakuta. Tapi berbeda jika berkunjung ke lokasi Penangkaran Buaya Teritip.

Mengintip Penangkaran Buaya

Mengintip Penangkaran Buaya di Balikpapan

Tempat wisata alternatif ini cocok sekali untuk melihat buaya dari dekat tanpa harus merasa was-was. Sebelum masuk area penangkaran buaya ini, pengunjung akan disambut dua patung buaya setinggi 1,2 meter. Patung ini sengaja dibuat menarik supaya tidak terkesan menyeramkan dengan tiket masuk Rp 15 ribu per orang.

Ada tiga jenis buaya yang ditangkarkan di Teritip yaitu Buaya Muara, Buaya Supit dan Buaya Air Tawar. Buaya ini kebanyakan berasal dari Kalimantan, tepatnya di area DAS Mahakam seperti Samarinda, Sangatta ataupun Bontang.

Jumlah buaya yang ada di penangkaran ini ada sekitar 1,5 ribu ekor atau terbesar di Kalimantan Timur. Buaya-buaya ini ditempatkan di beberapa kolam yang dibagi-bagi menurut usianya yaitu kategori anakan, penggemukan, remaja dan induk.

Di lokasi penangkaran, para pengunjung juga dapat menonton atau memberi makan buaya-buaya itu. Untuk menonton tidak dipungut biaya, tapi pengunjung harus datang tepat ketika para penjaga sedang memberi makan buaya-buaya. Sedangkan jika ingin memberi makan, pengunjung harus membeli ayam yang disediakan di lokasi penangkaran. Penjaga akan melemparkan ayam tersebut ke dalam kolam, saat itu biaya-biaya di dalamnya akan berebut ataupun berkelahi demi mendapatkan santapannya.

Kuliner Sate Buaya

Penikmat wisata kuliner ekstrem juga patut mempertimbangkan berkunjung ke lokasi penangkaran ini. Karena selain bisa mengintip penangkaran buaya, di tempat ini juga tersedia Sate Buaya seharga Rp 3 ribu per tusuk.

Selain itu, pengunjung juga bisa membeli berbagai souvenir berbentuk buaya untuk dijadikan oleh-oleh dari Penangkaran Buaya Teritip. Antara lain dompet dan ikat pinggang kulit buaya, asbak dan patung buaya. Satu lagi yang tidak kalah menarik untuk dijadikan oleh-oleh. Yaitu Tangkur Buaya khusus untuk para pria dewasa yang ingin meningkatkan stamina dan vitalitas.

Demikian info mengenai Mengintip Penangkaran Buaya Tiga Jenis di Balikpapan, kami harap postingan kali ini membantu kawan-kawan semua. Kami berharap postingan wisata di Kalimantan Timur ini diviralkan supaya semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi:

Pembahasan kita sekarang ialah menjelajah Kota Kendari yang mempesona. Kendari memang daerah multietnik. Selain dihuni etnis buton, muna dan tolaki juga dihuni etnis pendatang seperti Bugis, Jawa dan Bali. Kota Kendari dapat ditempuh selama kurang lebih satu jam penerbangan dari Makassar. Bandara Haluoleo adalah bandara yang akan didarati pesawat komersil yang kini sudah banyak membuka jalur penerbangannya ke kota ini.

Menjelajah Kota Kendari

Menjelajah Kota Kendari yang Mempesona

Kendari merupakan Ibu kota provinsi Sulawesi tenggara. Kota ini tidak kalah menarik dan mempesona dibanding objek wisata lain yang sudah terkenal seperti Wakatobi. Meski masih terbilang sepi wisatawan, namun pesona wisata yang lain ditawarkan di kota ini. Saatnya Anda menjelajah kota Kendari untuk membuktikan keelokan wisatanya.

Secara geografis, Kota Kendari merupakan daerah perbukitan yang mengelilingi Teluk Kendari. Teluk Kendari ini memiliki peranan sangat penting yaitu sebagai penghambat gelombang sekaligus tempat strategis berputarnya laju ekonomi. Di sinilah tempat berlabuhnya kapal penumpang, bongkar muat barang, pusat pelelangan ikan serta sebagai tempat rekreasi masyarakat.

Kesegaran udara di kawasan Kendari Beach atau disebut Kebi mengundang banyak pendatang dan masyarakat setempat untuk berolahraga. Posisi pantai yang berada tepat di pinggiran jalan yang lumayan panjang dan lebar menjadikannya sebuah rute jalan kaki atau lari pagi yang tidak membosankan.

Denyut nadi Kebi tidak hanya pada waktu pagi hingga sore, malam hari Kebi justru semakin hidup dengan maraknya kafe tenda yang berdiri di bibir teluk. Kafe tenda ini menyediakan aneka panganan khas Kendari seperti Pisang Epe, Pisang Ijo, Ikan Bakar, Coto, Saraba, Jagung Bakar dan sebagainya. Sambil menikmati aneka camilan, wisatawan dapat menikmati angin pantai serta lampu-lampu kota di seberang teluk.

Anda harus menjelajah Kota Kendari karena selain Kebi objek wisata lain yang terkenal yang tidak kalah menarik yakni

  • Pantai Batu Gong,
  • Pantai Toronipa,
  • Pantai Nambo,
  • Pantai Taipa,
  • Bintang Samudera dan
  • Air Terjun Moramo.
Pantai Nambo

Menjelajah Kota Kendari tidak lupa untuk jalan-jalan ke pantai. Pantai ini tidak jauh dari Kota Kendari hanya berjarak sekitar 12 km di sebelah selatan pusat kota tepatnya di kelurahan Abeli. Pantai Nambo memiliki air yang sangat jernih dan juga dengan gradasi warna yang sangat menarik. Fasilitas umum seperti toilet, tempat parker, dan beberapa gazebo dapat memanjakan wisatawan yang mengunjungi objek wisata Pantai Nambo.

Di area objek wisata Pantai Nambo sudah tersedia beberapa warung yang menjajakan berbagai macam dagangan dan tersedia juga beberapa pilihan penginapan mulai dari hotel kelas Melati hingga hotel berbintang.

Di Pantai Nambo juga dapat ditemui warung makan terapung yang bisa dinikmati saat air laut pasang. Berbagai olahan ikan segar nelayan disajikan di warung terapung dan disantap sambil menikmati pemandangan Pantai Nambo yang indah, terutama pada saat matahari terbenam.

Masjid Raya Kendari

Dengan menjelajah Kota Kendari, selain wisata alam, di sini juga memiliki wisata religi. Masjid Raya yang lokasinya berada di Jl. Abdullah Silondae merupakan salah satu destinasi wisata di kota Kendari. Masjid Raya yang selesai dibangun di kisaran tahun 2006 ini sempat menjadi area penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional yang ke-21.

Asmaul Husna terukir lewat ornament kaligrafi di permukaan kubah masjid yang megah ini. Masjid yang memiliki lafaz zikir terukir di setiap dindingnya ini dibangun bersebelahan dengan menara persatuan atau dikenal dengan Menara MTQ setinggi kurang lebih 99 meter.

Museum Negeri Provinsi Sulawesi

Usahakan tujuan Anda menjelajah Kota Kendari tidak hanya untuk liburan, tapi juga untuk mencari wawasan. Oleh karena itu tidak ada salahnya bila Anda liburan ke museum. Tidak jauh dari Menara MTQ dapat ditemui wisata budaya melalui Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara. Lokasi tepatnya dari museum ini ada di Jl. Abunawas No. 191 Bende Kadia Kota Kendari.

Museum yang berdiri di atas lahan seluas 1,85 hektar dengan luas bangunan 3.170 m2 ini memiliki gedung pameran tetap, gedung pameran temporer, laboratorium, gedung administrasi, tempat koleksi rumah perahu suku Bajo, tempat koleksi mobil, tempat koleksi ikan paus, gedung kurotorial, tempat penampungan air, gedung penyimpanan koleksi (storage) dan koleksi rumah adat suku Tolaki, toilet serta taman yang luas.

Jumlah koleksi yang ada di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara lebih dari seribu koleksi, tidak termasuk koleksi rumah adat Tolaki, tempat penyimpanan mobil kuno dan tempat penyimpanan rumah suku Bajo. Di museum ini wisatawan menjumpai koleksi semua suku-suku yang ada di Sulawesi Tenggara sejak zaman nenek moyang.

Koleksi Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara dipamerkan dalam gedung yang terdiri atas dua lantai. Lantai satu terdiri dari ruang pamer koleksi geologi, biologi dan teknologi. Sedangkan lantai dua terdapat ruang penyajian informasi koleksi etnografi, arkeologi, histori, numismatic, filologi, keramik dan kesenian. Namun, sayangnya museum yang menyimpan ribuan koleksi benda-benda bersejarah ini kurang terawat, sehingga kurang banyak diminati wisatawan. Oleh karena itu jika menjelajah Kota Kendari, Anda harus selalu menjaga kelestarian apa yang ada.

Kota Lama Kendari

Kota Kendari juga mempunyai peninggalan bangunan-bangunan bersejarah dan rumah-rumah tua yang berada di area Kota Lama (Kolam). Jika Anda penyuka budaya khususnya heritage, sayang jika melewatkan mengunjungi Kota lama yang menyuguhkan bangunan-bangunan tempo dulu bersejarah peninggalan penjajah Belanda dan Jepang serta peninggalan Kerajaan Laiwoi.

Selain sebagai peninggalan sejarah kemerdekaan Kota Lama Kendari juga menjadi pusat peradaban pertama dan sejarah terbentuknya Kota Kendari yang ditandai dengan peristiwa pembangunan Istana Kerajaan Laiwoi pada tanggal 9 Mei 1832 oleh Vosmaer dari Belanda yang kini telah musnah tidak bersisa.

Kota Lama saat ini berfungsi sebagai area pertokoan, terutama emas asal Kendari yang terkenal pusatnya di sini. Selebihnya ada pelabuhan bongkar muat lama yang juga menjadi daya tarik tersendiri. Kalau main ke Sulawesi Tenggara tidak ada salahnya untuk menjelajah Kota Kendari.

Wisata Kerajinan

Sulawesi Tenggara juga memiliki wisata aneka kerajinan khas. Kerajinan khas dari Sulawesi Tenggara antara lain kerajinan anyaman seperti rotan, bambu, nentu, pandan hutan, agel dan anyaman sorume. Dengan menjelajah Kota Kendari tidak ada salahnya Anda bisa melihat kerajinan khas.

Seni menenun telah dikenal di Sulawesi Tenggara sejak ratusan tahun lalu terus dilestarikan. Wilayah daratan terdiri dari 3 etnis besar yaitu Tolaki, Mekongga dan Mornene yang punya ciri khas tenun. Yaitu motif kotak yang terpadu dengan tumpal yang memiliki makna tersendiri berkaitan dengan strata sosial.

Wilayah kepulauan terdiri dari etnis Muna dan Buton memiliki ciri khas motif garis dan kotak, namun ada yang lebih unik yaitu motif ikat dengan menggunakan pewarna alam dari kepulauan Wakatobi. Tidak kalah menariknya dengan kerajinan emas dan perak dengan teknik sarang laba-laba juga menjadi andalan masyarakat setempat hingga di ekspor ke berbagai Negara.

Pada umumnya semua pekerjaan menenun dilakukan oleh wanita untuk memenuhi sandang keluarga yang diperlukan untuk upacara adat perkawinan, pesta, acara adat lainnya dan pakaian sehari-hari.

Setelah menjelajah Kota Kendari akan keunikan kerajinannya, kini saatnya kulinernya. Makanan khas dari Kendari untuk oleh-oleh yaitu kacang mete. Kacang mete dari Kendari terkenal gurih dan renyah dengan dua varian rasa utama yaitu asin dan manis, belakangan ini beberapa pedagang mete menambahkan varian rasa baru aneka rasa seperti pedas, cokelat, caramel, keju dan lain-lain. Kacang mete yang sudah terbungkus rapi di dalam kemasan bermerk ini bisa ditemui di pusat kota, pasar maupun di kawasan Kendari Beach (Kebi).

Sekian informasi berkaitan dengan menjelajah Kota Kendari yang mempesona, kami harap artikel ini berguna buat kalian. Tolong artikel wisata ini dibagikan agar semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Referensi: Menjadi Travelpreneur Sukses

Uniquely customize client-focused internal or “organic” sources whereas prospective core competencies. Assertively leverage other’s scalable internal or “organic” sources whereas exceptional channels. Compellingly disintermediate highly efficient process improvements and equity invested resources. Phosfluorescently supply orthogonal strategic theme areas vis-a-vis premium. Details