Kekuatan Kerajinan Tenun Ulos dalam Menjaga Perekonomian

Di artikel ini kami akan bahas seputar Kekuatan Kerajinan Tenun Ulos dalam Menjaga Perekonomian Para Penenun. Ketika melakukan perjalanan ke suatu daerah, kita tentu tak ingin pulang dengan tangan kosong. Oleh-oleh andalan yang menjadi ikon daerah, menjadi salah satu perburuan yang tak akan terlewat. Terletak di Hutan Raja, Desa Lumban Suhi-suhi Toruan, Kecamatan Pangururan menjadi tempat penghasil tenun ulos yang tak hanya dikerjakan oleh orang dewasa saja, tapi juga anak-anak sepulang sekolah.

Kekuatan Kerajinan Tenun Ulos

Kekuatan Kerajinan Tenun Ulos dalam Menjaga Perekonomian

Ketika berkunjung ke Hutan Raja yang berada di pinggir jalan lintas Pangururan – Tomok dan hanya berjarak sekitar 20 menit dari Kota Pangururan jika mengendarai sepeda motor, akan terlihat para ibu dan anak gadisnya yang masih berusia belasan sedang asyik menenun ulos di depan rumah sambil bercengkrama.

Pembuatan kerajinan tenun ulos menjadi bagian yang menyenangkan dengan sekaligus menjadi upaya pelestarian agar tidak dilupakan. Keberadaan desa pengrajin ulos menjadikan kain jenis ini tetap ada hingga sekarang walaupun perkembangan mode tidak pernah henti berganti. Budaya menenun yang dilakukan oleh perempuan di Samosir menjadi salah satu kegiatan yang membantu ekonomi keluarganya.

Harga Tenun Ulos

Ulos adalah salah satu benda sakral yang menjadi simbol restu, kasih sayang, dan persatuan. Ijuk pangihot ni hodong (jika ijuk pengikat pelepah ke batang), ulos pangihot ni holong (ulos pengikat kasih sayang antarsesama). Ini menjadi penguat akan keberadaan ulos hingga kini. Kain ulos yang dihasilkan para penenun biasanya akan ditawarkan dengan harga yang berbeda-beda, tergantung jenis dan tingkat kesulitan dalam pembuatannya.

Harga kerajinan tenun ulos standar dari benang sutra antara Rp 300.000 hingga Rp 500.000. Ulos berkualitas tinggi memiliki kisaran harga Rp 1.000.000 sampai Rp 5.000.000. Waktu yang diperlukan untuk membuat sehelai ulos berkisar dari empat pekan hingga lebih, tergantung jenis kain dan tingkat kerumitan.

Produksi Tenun Ulos

Produksi kerajinan tenun ulos yang dapat dihasilkan oleh pengrajin Desa Lumban Suhi-suhi Toruan terbilang cukup banyak. Sebab terdapat upaya pewarisan keterampilan bertenun ke anak perempuannya sedari awal. Memang tidak semua anak perempuan di Hutan Raja mahir bertenun karena ketidakinginannya. Anak-anak akan terdorong belajar ketika memiliki latar belakang ekonomi yang kurang. Sehingga ketika mereka menenun, akan mendapat uang tambahan untuk ongkos atau jajan ketika sekolah.

Nama-Nama Tenun Ulos

Ulos merupakan selendang tradisional suku Batak yang menjadi simbol dari harga diri orang Batak dengan filosofi yang terkandung dalam setiap motif yang dihasilkan. Setidaknva ada 24 nama ulos dengan nilai, fungsi, dan pemakaian yang berbeda-beda. Nama-nama ulos itu adalah

  1. Pinunsaan (Run-jatmarisi),
  2. Ragi Idup,
  3. Ragi Hotang,
  4. Ragi Pakko,
  5. Ragi Uluan,
  6. Ragi Angkola,
  7. Sibolang Pamontari,
  8. Sitolu Tuho Nagok,
  9. Sitolu Tuho Bolean,
  10. Suri-suri Na Gok,
  11. Sirara,
  12. Bintang Maratur Punsa,
  13. Ragi Huting,
  14. Suri-suri Parompa,
  15. Sitolu Tuho Najempek,
  16. Bintang Maratur,
  17. Ranta-ranta,
  18. Sadun Toba,
  19. Simarpusoran,
  20. Ilangiring,
  21. Ulutorus Salendang,
  22. Sibolang Resta Salendang,
  23. Ulos Pinarsisi, dan
  24. Ulos Tutur Pinggir.

Masyarakat Batak memakai ulos pada berbagai acara adat mulai dari pernikahan, pemakaman, maupun pesta marga. Pengunjung dapat memiliki ulos sebagai cendera mata.

Bahan Tenun Ulos

Dalam proses pembuatan kain / kerajinan tenun Ulos, para pengrajin menggunakan bahan-bahan pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Hal ini disebabkan untuk menjaga kulaitas kain tenun agar tetap awet dan tidak mudah luntur.

Penggunaan bahan pewarna alami ini juga disebabkan oleh mudahnya seluruh bahan untuk ditemukan di sekitar Pulau Samosir. Sehingga para pengrajin tidak perlu mengeluarkan biaya yang lebih untuk membeli bahan-bahan pewarna buatan yang harganya cukup mahal. Selain itu juga dapat mempengaruhi kualitas kain tenun Ulos.

Pemasaran Tenun Ulos

Selain dijual langsung kepada para wisatawan yang berkunjung ke desa Lumban, Suhi-suhi Toruan juga dipasarkan di beberapa tempat, antara lain di

  • Pasar Sentral,
  • Pasar Senen Batak, dan
  • perbelanjaan lain yang menyediakan oleh-oleh khas Batak.

Kerajinan tenun ulos dari desa Lumban Suhi-suhi Toruan ini sudah tersebar di Indonesia hingga mancanegara. Kain ini juga sering mengikuti pameran di Eropa dan beberapa kali diliput oleh media massa hingga tayang di televisi. Tak hanya kainnya yang dipamerkan ke negara lain, tapi juga penenunnya yang diminta untuk mempromosikan langsung.

Demikian informasi mengenai Kekuatan Kerajinan Tenun Ulos dalam Menjaga Perekonomian Para Penenun, semoga post ini membantu Anda. Tolong post wisata di Sumatra Utara ini diviralkan supaya semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Referensi:

Related post